Tampilkan postingan dengan label Risiko Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risiko Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2019

Wow! Ternyata Berlari Bisa Kurangi Risiko Kematian

Sumber: google.com


Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine mengungkapkan bahwa berlari dapat mengurangi kemungkinan kematian dari sebab apapun.

Jika lebih banyak orang berlari, dan mereka tidak harus berlari jauh atau cepat, kemungkinan akan ada peningkatan substansial dalam kesehatan populasi dan umur panjang.

Untuk mencari tahu, para peneliti secara sistematis meninjau penelitian yang telah diterbitkan, presentasi konferensi, dan tesis doktoral dan disertasi dalam berbagai database akademik.

Mereka mencari studi tentang hubungan antara berlari atau jogging dan risiko kematian dari semua penyebab, seperti penyakit kardiovaskular, dan kanker. Dalam penelitiannya ditemukan 14 studi yang cocok, yang melibatkan 232.149 orang, yang kesehatannya telah dilacak antara 5,5 dan 35 tahun.

Ketika data penelitian dikumpulkan, jumlah lari dikaitkan dengan risiko kematian 27 persen lebih rendah dari semua penyebab untuk kedua jenis kelamin, dibandingkan dengan tidak berlari. Dan itu dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 30 persen lebih rendah, dan risiko kematian akibat kanker yang lebih rendah 23 persen.

Bahkan 'dosis' kecil, misalnya sekali seminggu atau kurang, berlangsung kurang dari 50 menit setiap kali, dan pada kecepatan di bawah 6 mil (8 km) per jam, tampaknya masih dikaitkan dengan manfaat kesehatan atau umur panjang yang signifikan.

Jadi berlari selama 25 menit kurang dari durasi mingguan yang direkomendasikan dari aktivitas fisik yang kuat dapat mengurangi risiko kematian. Hal ini membuat berlari merupakan opsi yang berpotensi baik bagi mereka yang memiliki waktu tak cukup banyak untuk berolahraga.

Tetapi, perlu diingat, menaikkan ‘dosis’ berlari tidak terkait dengan penurunan lebih lanjut risiko kematian dari sebab apapun.

Ini adalah penelitian observasional, dan karena itu, tidak dapat menentukan penyebabnya. Dan para peneliti mengingatkan bahwa jumlah penelitian yang dimasukkan kecil dan metode mereka bervariasi, yang mungkin mempengaruhi hasil.

Namun demikian, mereka menyarankan bahwa jumlah lari berapapun lebih baik daripada tidak sama sekali, sebagaimana yang dilansir dari The Health Site Online.




Sumber: akurat.co

Jangan Stres! Karena Stres Picu Vitiligo dan Memperburuk Keadaan

Sumber: google.com


Tidak mengancam jiwa, tidak menular, tidak ada gangguan, penyakit kulit vitiligo tetap penting dibahas. Pasalnya, dr. Dian Pratiwi, SpKK, FINSDV, FAADV, mengatakan, vitiligo sangat berkaitan dengan depresi berat.

"Vitiligo berkaitan dengan depresi, ini bukan suatu hal yang jarang ditemui. Datang menangis, gak mau pergi sekolah, gak mau keluar, gak mau aktivitas," katanya kepada AkuratHealth, dibilangan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, (21/11).

Terbukti, sebuah penelitian dengan sampel 270 studi dan 2708 kasus, menunjukan prevalensi yang alami depresi 0,25 persen, kemudian yang menunjukan gejala vitiligo 0,34 persen yang alami depresi.

"Orang yang vitiligo memungkinkan lima kali lipat untuk alami depresi berat daripada yang tidak vitiligo," jelasnya.

Tak hanya itu, kaitan vitiligo dan stres juga berkaitan tentang pemicu dan memperburuk keadaan vitiligo.

Dalam waktu yang bersamaan, dokter spesialis kulit dan kelamin, Anthony Handoko, stres psikis yang susah dihindari kedatangannya itu menjadi salah satu pemicu timbulnya dan memperluas vitiligo tidak ada habis-habisnya.

"Makanya pasien vitiligo juga dikatakan harus siap secara mental, menerima terlebih dahulu bahwa saya vitiligo, dibawa lebih santai, pengalaman Kami kalau lebih rileks pengobatan lebih banyak kemajuan," jelas dokter Anthony.




Sumber: akurat.co

Hati-hati! Ternyata Cat Rambut Bisa Jadi Penyebab Vitiligo

Sumber: google.com


Merupakan suatu penyakit kulit, vitiligo terjadi karena kurangnya pigmen melanin dalam tubuh. Sehingga, kulit berubah warna sebagian menjadi warna putih susu.

Dokter Dian Pratiwi, SpKK, FINSDV, FAADV, mengatakan, ada beberapa faktor risiko yang membuat melanosit sel penghasil pigmen rusak, dan berakhir idap vitiligo.

"Pertama menurut studi genetik itu berperan, sekitar 6 persen. Bahkan kalau kembar, kemungkinan kalau satunya kena, satunya lagi juga 23 persen kemungkinan juga kena," katanya kepada AkuratHealth, di bilangan Menteng, Rabu, (20/11).

Kemudian, vitiligo juga dikait-kaitkan dengan autoimun sebagai faktor risikonya. Dokter Dian juga mengatakan, bagi yang sudah memiliki bakat vitiligo, stres oksidatif bisa memicu vitiligo hadir di tubuhnya.

Tak kalah pentingnya untuk diketahui ialah faktor risiko dari lingkungan alias paparan bahan-bahan tertentu yang ternyata bisa ditemukan di pewarna rambut. Bahan cat rambut yang mengandung fenol yang wajib Kamu hindari.

"Paparan fenol dalam jangka panjang akan merusak melanosit. Kalau mau cat rambut sebaiknya harus tahu ingredientsnya. Fenol juga bisa ditemukan di beberapa bahan pembersih kuat, kimia kuat, hati-hati mengandung fenol," tutupnya.

Apapun penyebabnya, dokter Dian menghimbau agar segera memeriksakan bercak putih yang diduga vitiligo. Karena penanganan yang cepat dan tepat dapat segera didapat. Semakin cepat dan tepat penanganannya, hasil pengobatan pun akan lebih maksimal.




Sumber: akurat.co